Semua Tentang Bullying


Flashback ke masa kecil saya, tepatnya ketika saya masih duduk di bangku sekolah SD, saya pernah merasakan pahitnya menjadi korban bully. Ditambah lagi, sebagai anak pertama dari 4 bersaudara tidak memiliki orang yang bisa dijadikan tempat mengadu.

3 tahun pertama sekolah dasar, saya merasakan kedamaian tidak ada yang namanya bullying di masa itu, semua anak satu kelas dan satu angkatan saya pada waktu itu super nice semua tidak ada bully. Mungkin ada satu dua kali momen kekerasan tapi masih dalam tahap wajar anak-anak. Saya tinggal di rumah petak berukuran kecil pada waktu itu, untuk sebuah keluarga yang terdiri dari 6 orang rumah tersebut sebenarnya tidak layak untuk ditinggali. Maka, ketika pada akhirnya kondisi ekonomi keluarga membaik, kami memutuskan untuk pindah dari kontrakan mungil tersebut ke kontrakan lain yang ukurannya jauh lebih besar.

Karena kepindahan ini, maka sekolah saya pun harus ikut pindah karena tidak mungkin tetap bersekolah di tempat yang sama sebab lokasinya lumayan jauh. Masa-masa tenang di sekolah akhirnya berakhir, saya memasuki sekolah baru , lingkungan baru, dan orang-orang baru termasuk pengalaman buruk baru yang sudah menanti. Disinilah pertama kalinya saya merasakan bullying secara fisik dan verbal dari orang lain.

Mengapa seseorang bisa dibully
Dulu saya tidak mengerti mengapa orang-orang itu memperlakukan saya dengan buruk, memukul, menghina, memaki, seringkali meminta uang jajan saya yang jumlahnya tidak seberapa. Kemudian baru saya menyadari saya dibully karena saya terlihat lemah dan mudah disakiti.

Orang yang membully biasanya adalah orang yang merasa dirinya kuat , jagoan dan dia melihat orang lain sebagai korban bully adalah orang lemah yang gampang ditindas dan tidak melawan. Waktu itu memang saya adalah tipe orang yang seperti itu, karena faktor anak baru dan lingkungan yang berbeda dari lingkungan sekolah saya sebelumnya yang damai nan tentram.

Karena saya tidak mau berada dalam kondisi seperti itu, saya melakukan perlawanan. Seringkali saya berkelahi dengan teman sekelas yang mencoba menyakiti, meminta uang atau menghina saya. Tidak  jarang akhirnya saya dipanggil ke ruang guru untuk dimarahi. Apa setelah itu mereka berhenti bully? Hell No, alih-alih berhenti mereka semakin beringas, saya semakin sering menerima perlakuan buruk karena kalah jumlah dan saya sendirian menghadapi mereka. 

Sekolah menjadi tempat yang mengerikan untuk didatangi, saya mulai malas pergi sekolah, beberapa kali saya mencari alasan supaya tidak harus masuk sekolah walau sehari, setidaknya saya bebas dari bully untuk sementara.

Satu caturwulan ( per-3 bulan ) pun selesai, saya bersyukur dulu belum menggunakan sistem semester karena setelah ini saya mendapatkan kesempatan untuk pergi dari sekolah neraka itu dalam waktu cepat. Ada sebuah program yang digalakan oleh sekolah satu kecamatan yang akan mengumpulkan kandidat-kandidat dari setiap sekolah yang kemudian ditest untuk disatukan menjadi kelas unggulan. Yang bisa mengikuti test ini adalah siswa yang memiliki rangking 1 sampai 5 dari tiap sekolah, dan saya beruntung sekali bisa mendapatkan ranking 5.

Test pun selesai dan diumumkan bahwa saya lulus test tersebut tapi masih diberi pilihan apakah ingin ikut kelas unggulan itu  yang berarti saya harus pindah sekolah lagi atau tidak ikut kelas unggulan dan tetap di sekolah ini. Tanpa pikir panjang saya pilih pindah, karena saya melihat ini kesempatan emas untuk pergi dari lingkungan itu dan menghindari orang-orang yang membully saya. Saya langsung menyusun strategi dengan meyakinkan orang tua dan kepala sekolah bahwa saya akan pindah ( pihak sekolah cenderung tidak mau kehilangan muridnya, dari 5 orang yang ikut test cuma saya yang lulus dan mau pindah )

Strategi ini berhasil, saya dimasukan ke dalam kelas yang anak-anak nya berasal dari berbagai sekolah yang berbeda dan yang paling penting di kelas itu tidak ada orang yang berpotensi untuk menjadi tukang bully. I’m totally free, 3 tahun berlalu dengan damai.

Solusi untuk korban bullying
Jadi dari pengalaman itu saya menyimpulkan untuk supaya tidak menjadi korban bully setidaknya ada beberapa solusi yang bisa dipilih.

1.       Lawan
Tukang bully akan membully korbannnya karena korban nya tidak melawan dan terlihat lemah, maka dari itu jika di bully lawanlah dia jangan mau ditindas , jangan mau diremehkan oleh orang lain. Tunjukan kalau kamu adalah orang kuat yang tidak akan diam ketika harga dirinya diinjak-injak. Mungkin akan terasa berat apalagi jika yang membully lebih dari satu orang ( satu geng ) but it’s worthed thing to do karena setidaknya mereka akan considering kamu bukan sebagai orang lemah yang gampang dibully.

2.       Hindari
Jika kamu tidak bisa melawan atau kamu sudah melawan tapi tindakan bully itu masih terus saja terjadi maka solusi yang ampuh adalah keluar dari lingkungan itu. Karena waktu dan tenaga kamu akan terbuang untuk meladeni kekerasan demi kekerasan yang akan terus kamu terima selama masih berada dalam lingkungan tersebut.

3.       Lapor
Jika kamu tidak bisa melawan dan tidak juga bisa menghindari maka solusi terbaik adalah dengan bercerita, jangan segan untuk bercerita ke orang-orang yang lebih tua entah itu guru, orang tua, kakak tentang kondisi yang kamu alami. Walaupun saya tidak pernah melakukan hal ini, saya yakin bantuan dari orang yang lebih tua akan menjadi solusi yang bijak tentang permasalahan kamu.

4.       Bersosialisasi
Solusi ini saya terapkan ketika naik ke jenjang SMP, saya menyadari kenapa saya di bully karena saya sendirian, saya tidak punya banyak teman apalagi teman dekat yang bisa saya andalkan untuk membantu saya ketika saya dibully, parahnya saya malah berteman dengan orang yang setipe dengan saya lemahnya. Ketika SMP itu,  saya bertemu dengan orang yang berpotensi untuk menjadi tukang bully, karena saya tidak mau itu terjadi lagi maka saya mulai bersosialisasi, saya berteman dengan siapapun tanpa pilih-pilih, saya bersahabat dengan orang-orang yang bisa saya andalkan jika saya dibully. Akhirnya saya malah berteman baik dengan tukang bully itu, apakah itu berarti saya jadi tukang bully? Ngga, saya bisa berteman dengan anak nakal tanpa harus menjadi nakal, saya bisa berteman dengan perokok tanpa harus jadi perokok, bahkan ketika si tukang bully itu di-DropOut dari sekolah karena mengedarkan narkoba, saya tidak ikut-ikutan terbawa. Kuncinya ada di pembawaan diri, jangan mudah terbawa arus, miliki prinsip hidup.

Jadi, alih alih melawan atau menghindar saya merangkul pembully, saya berbaur dengan mereka. Waktu zaman sekolah saya punya banyak teman perokok, pemabuk, pemakai narkoba, anak nakal, tapi sampai sekarang jangankan narkoba rokok saja tidak pernah saya sentuh.
Bagi saya solusi no.4 adalah solusi terbaik karena selain terhindar dari bully saya bisa mendapatkan teman yang banyak. Dalam berteman tidak perlu pilih-pilih yang perlu dilakukan adalah berpegang teguh dengan prinsip, tidak perlu takut akan terbawa negatif jika berteman dengan orang yang negatif selama kita bisa mawas diri dan tau mana batasan-batasan yang tidak boleh dilewati semuanya akan baik-baik saja.

Cyber Bullying
Buat saya cyberbullying adalah hal yang baru, karena zaman saya sekolah dulu semuanya masih serba analog belum masuk zaman digital. Jadi konon anak sekolah zaman sekarang itu mengalami bullying lewat dunia digital atau internet atau social media atau layar kaca. Katanya CyberBullying ini sangat berbahaya karena sudah menelan korban jiwa, banyak anak yang memutuskan untuk bunuh diri karena dia di bully di internet.

Karena saya pernah mengalami bully fisik yang nyata maka saya melihat cyberbullying ini konyol, karena saya ga ngerti kenapa ko bisa seseorang merasa terbully hanya karena text di layar kaca? Ko bisa sih seseorang merasa sakit hati hanya karena sebuah tulisan random yang dibuat oleh orang asing yang kenal dia saja mungkin hanya dari foto?

Solusi cyberbullying itu sangat sederhana cukup matikan layar monitor atau layar gadget, atau jika di social media bisa manfaatkan fitur blokir maka bully itu akan berhenti. Yang saya tidak paham orang merasa tersinggung dengan tulisan tapi instead of berhenti membacanya malah semakin terus menerus dibaca? Sudah tau tidak suka dihina malah bikin akun ask.fm. Apa generasi sekarang itu sudah terjangkiti S&M syndrome? Mendapatkan kenikmatan dari menyakiti diri sendiri gitu? Come on ah.. stop it.

Saya sering menerima insult dari orang-orang di internet, biasanya terjadi di kolom komentar social media ketika saya sedang berdebat mengenai topik yang sedang hangat. Insult verbal, sebutan berbagai binatang, disebut kafir, didoain supaya dapat hidayah, sering sekali digoblokin karena beda pendapat sudah menjadi makanan sehari-hari. Tapi saya menganggap itu semua hanya angin lalu i don’t give a fuck about them. Saya tidak peduli dengan pendapat orang asing tentang saya, saya tidak peduli tentang sebuah tulisan di layar kaca, tulisan itu tidak bisa menyakiti saya, saya jauh lebih kuat dari itu. Saya membatasi perhatian saya hanya kepada pendapat orang-orang yang dekat dengan saya, diluar itu i don’t give a fuck.

Dalam bukunya Subtle art of not Giving a fuck, mark manson mengatakan bahwa salah satu faktor utama kenapa banyak orang yang sensitif dan mudah marah dan tersinggung adalah karena dia terlalu banyak mempedulikan banyak hal dalam hidupnya dan melupakan hal-hal yang krusial yang sebenarnya butuh lebih banyak perhatian tapi tidak tersentuh karena terlalu banyak energi nya habis untuk mengurusi yang tidak penting dalam hidupnya.

Mungkin ada yang berkomentar, tiap orang kan beda-beda sifatnya ada yang bisa menerima insult ada yang memang sudah dari lahir sensian. Nah ini juga konyol, sudah tau kalau dirinya itu gampang marah, gampang tersinggung, selalu berpikir pendapat orang lain tentang dirinya, eh dia bikin akun ask.fm atau akun sosial media lain yang mana disitu semua orang bisa berkomentar seenak jidatnya, sebenarnya platform tersebut diperuntukan untuk selebritis yang memang sudah terbiasa dengan hujatan dan komentar negatif tapi perkembangan internet memungkinkan orang biasa untuk merasakan rasanya menjadi celebritis. Efeknya banyak orang biasa yang tidak sanggup dengan beban itu dan akhirnya merasa terbully dan depresi.

Terakhir
Akhir kata mari kita hentikan bully, entah itu bully secara langsung atau digital. Saya suka menganalogikan ini dengan hubungan antara angkot yang suka berhenti sembarangan dan penumpangnya. Penyebab angkot sembarangan ketika berkendara salah satu faktornya adalah dari penumpangnya sendiri yang suka seenak jidat naik dan turun di sembarang tempat yang akhirnya di respon oleh supir dengan gaya berkendara yang buruk. Nah jika ingin menghentikan prilaku buruk pengemudi itu kita bisa memperbaiki nya dari diri sendiri atau dari segi penumpang nya yang menjadi lebih tertib sehingga tidak menjadi pemicu supir untuk sembarangan. Sama hal nya dengan bullying , tidak akan ada bullying kalau tidak ada korban untuk dibully.

Pada prakteknya tentu tidak mudah, karena banyak sekali faktor kenapa bisa terjadi bullying. Bisa dari faktor si pelaku bully yang biasa anak yang bermasalah dirumah , punya masalah keluarga, atau memang dari lingkungan yang menyebabkan dia terkondisi untuk menjadi pelaku bully. Solusinya orang tua atau guru di sekolah harus lebih peka dalam melihat fenomena ini, karena sering kali mereka tidak memahami ini dan hanya menganggap bahwa itu hanya kenakalan anak kecil biasa. Salah satu solusi mungkin di setiap sekolah itu harus punya psikiater yang bisa menjadi tempat konseling untuk korban atau pelaku bully. Selama ini yang saya tau badan konseling di sekolah tidak ditangani oleh orang yang kompten dalam bidang psikologi sehingga tidak efektif untuk mengatasi masalah ini.


Untuk cyberbullying, please just turn off your screen to stop being bullyed!
Tag : opini
0 Komentar untuk "Semua Tentang Bullying"
Back To Top