Ramadan dan Toleransi


Tahun 2015 ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak ada dualisme dalam menentukan kapan hari pertama puasa. biasanya antara pemerintah dengan sebagian umat islam selalu berbeda pendapat tentang kapan hari pertama puasa. menurut berita yang saya baca, persamaan ini akan bertahan kurang lebih sampai tahun 2020. Perbedaannya terletak pada metode atau cara yang digunakan dalam menentukan permulaan bulan. Muhammadiyah menggunakan metode perhitungan matematis berdasarkan pergerakan bulan sedangkan pemerintah cenderung menggunakan metode pencarian hilal.

Secara pribadi saya lebih suka dengan metode nya Muhammadiyah yang pertama lebih efisien waktu, tenaga dan pikiran dan juga cukup ilmiah. secara logika saja pergerakan bulan itu sudah fix seperti itu sejak ribuan tahun yang lalu apapun yang terjadi di bumi bulan akan tetap bergerak dengan kecepatan dan posisi yang sama. sehingga walaupun manusia di bumi tidak mampu melihat posisi bulan pada suatu waktu bukan berarti pergerakan bulan jadi berubah. saya pun mengerti metode melihat hilal pun merupakan cara yang baik tapi kalau ada cara yang lebih sederhana kenapa memilih yang rumit,coba bayangkan jika seluruh dunia di selubungi awan sehingga menyebabkan manusia di bumi tidak bisa melihat ke langit karena tertutup awan, apa nanti pemerintah akan mengundur puasa sampai awan nya hilang? kan konyol. ah masa bumi tertutup awan seluruhnya, tidak masuk akal, jika itu yang kamu tanyakan coba baca sejarah tentang ledakan danau Toba.

Yang berikutnya yang selalu dibahas menjelang puasa adalah tentang toleransi. sama halnya ketika mendekati natal maka perdebatan yang muncul adalah larangan mengucapkan selamat natal, ketika dekat valentine larangan merayakan valentine dan masih banyak lagi, terus-menerus diulang setiap tahun tanpa pernah ada solusi. begitu pun menjelang bulan puasa warung makan dilarang buka siang hari. biasanya yang memulai perdebatan ini adalah kalangan fundamentalis,fanatik dan teman-temannya. argumen nya mereka adalah yang tidak berpuasa harus menghormati yang berpuasa. dan menurut mereka cara menghormati nya adalah dilarang berjualan siang hari selama satu bulan. apa mereka lupa tujuan puasa itu apa?
Sweeping warung makan oleh Oknum

Tujuan puasa adalah menahan godaan BUKAN menghilangkan godaan. kalau godaan nya dihilangkan hilang pula makna dari tujuan puasa itu sendiri. apalagi jika ditambah dengan aksi-aksi anarkis yang seringkali dilakukan kelompok-kelompok tertentu hanya untuk menghilangkan godaan tersebut. apakah iman mereka hanya sebesar piring warung tegal ? atau sebungkus nasi padang?.
puasa kok manja kaya anak kecil, kalau anak kecil berpuasa terus tergoda makanan di pinggir jalan masih bisa dibilang wajar, namanya anak-anak tapi bapak2 berpakaian alim ulama berjenggot dan tentunya sudah berumur ko ya masih kalah sama godaan makanan sampai harus melarang orang berjualan. piye to pak?.
tergoga jajanan warung

kalau indonesia adalah negara kerajaan islam seperti arab saudi mungkin pelarangan berjualan di saat-saat tertentu merupakan hal yang wajar, jangan kan bulan puasa, jam waktunya shalat pun disana tidak boleh berjualan tapi yang harus diingat adalah ini indonesia bukan arab saudi, negara kita bukan negara yang berlandaskan hukum Islam. Ini negara Pancasila, negara yang terdiri dari berbagai macam suku ras dan agama meski sebagian besar rakyatnya belum tentu hafal bunyi lima sila, apalagi jumlah bulu di ketek burung Garuda, lambang negara. Karena negara Pancasila, semua orang dengan kepercayaan masing-masing dilindungi kebebasannya menjalankan ajaran kepercayaan masing-masing dan saling hormat-menghormati. Bertoleransi. Tenggang rasa. Persis seperti ajaran Islam “Lakum diinukum wa liyadiin” itu.

Lagipula bulan Puasa bagi sebagian orang adalah masa untuk mengais rezeki, untuk bekal merayakan Lebaran. Bagi mereka yang mendapat jatah THR mungkin tidak ada persoalan, tapi bagi pemilik warung-warung makan kecil, mereka butuh mencari dan mendapatkan THR untuk dibawa pulang merayakan Lebaran, dan mereka bisa mendapatkannya kalau makanan di warung mereka ada yang beli. Berbeda masalahnya bila nanti pemerintah berbaik hati. Misalnya, dengan mengeluarkan Kartu Indonesia Lebaran yang dibagikan ke orang-orang kere sebagai syarat mendapatkan THR gratis di kantor-kantor kelurahan.

Marilah kita melaksanakan ibadah puasa ini dengan hati yang adem dan tentram, seperti adem nya pikrian anak-anak yang sedang melaksanakan ibadah puasa, mereka menyantap sahur dengan kantuk yang tak tertahan, bergegas salat subuh di masjid karena teman-teman sepermainan sudah ramai menunggu, pergi istirahat di masjid ketika siang tengah terik, berburu jajanan di pasar atau mengolah kolak sendiri untuk menu berbuka, lalu dituntasi dengan bermain petasan sesaat setelah selesai Tarawih di masjid.

Tak ada praduga, tak ada tendensi, tak ada kedegilan untuk memaksakan rasa hormat kepada pihak lain. Tak ada upaya memantik belas kasih, juga perasaan berhak dihormati. Ramadan jadi menyenangkan, menenteramkan. Situasi semacam itulah yang saya kira membuat Ramadan dimaknai sebagai bulan yang selalu ditunggu hadirnya. Seperti menanti tanggal merah yang dilingkari di kalender. Dengan kata lain: Ramadan semestinya adalah liburan, kegembiraan, kebersahajaan. Bukan peperangan, bukan upaya mendominasi pihak lain dengan sikap pengecut yang gemar keroyokan khas mayoritas.
Tag : life
0 Komentar untuk "Ramadan dan Toleransi"
Back To Top